Random Post

Kamis, 03 Februari 2011

History Music from Jamaica “REGGAE”


Jamaika hanyalah titik kecil dalam peta dunia. Tapi dari negeri pulau di Lautan Karibia yang terjepit Benua Amerika itulah lahir musik reggae. Bob Marley memopulerkan reggae ke seluruh dunia sampai ke tanah Melayu.

Mari kita simak lirik lagu reggae Bunglon ciptaan Tony Q Rastafara: “Banyak pahlawan kesiangan mengaku ikut andil dalam perjuangan/ Banyak juga yang berganti baju, tak pernah punya urat malu/ Merancang strategi untuk tetap korupsi, pertahankan kolusi/ Bunglon selalu berubah warna….”

Tony mengaku belajar menulis lirik lagu dari lagu-lagu ciptaan Bob Marley (1945-1981), legenda reggae itu. Lirik lagu Bob bermuatan komentar sosial, pemerdekaan sosial, kemiskinan, perlawanan pada tekanan kekuasaan, seruan tentang hak-hak asasi manusia, cinta, persaudaraan. Latar sosio-kultural Jamaika ia alihkan ke panggung Indonesia.

“Saya menulis lirik yang lebih realistis dengan kehidupan di Indonesia. Tapi esensinya sama dengan lirik Bob Marley. Bukankah kita juga terjajah, tapi oleh kulit yang sama,” kata Tony Q yang memainkan musik reggae sejak akhir 1980-an dan telah menghasilkan lima album reggae.
Begitulah reggae masuk negeri Melayu dengan seperangkat kultur yang melahirkannya. Di antaranya adalah pandangan hidup Rastafari atau Rasta yang banyak memengaruhi kehidupan Bob Marley dan kemudian terekspresikan dalam lagu.

Di luar materi dengaran, reggae juga membawa perangkat pendukung rasta. Termasuk di antaranya adalah simbol-simbol seperti mode rambut gimbal atau dreadlocks sampai simbol warna merah, kuning, hijau. Ikut terbawa pula gaya hidup serta, dalam taraf tertentu, pandangan hidup rastafarian.
Sekadar contoh adalah nama Tony Q Rastafara. Pria kelahiran Semarang tahun 1961 itu aslinya bernama Tony Waluyo Sukmoasih. Tambahan Rastafara merujuk pada “faham” rastafarian yang dibawa kultur reggae.

“Tapi saya bukan penganut rastafarian,” kata Tony yang berambut gimbal itu.

Reggae
Reggae muncul sebagai reaksi kultural atas datangnya gelombang rock ’n roll dan rhythm and blues (R&B) dari Amerika pada akhir 1950-an. Mula-mula lahirlah musik ska yang diramu dari unsur rock ’n roll dan rentak Afrika serta Karibia. Seperti rock ’n roll, ska yang bertempo cepat juga nyaman untuk berjingkrak-jingkrak. Pada era 1960-an, ska mengalami pelambanan tempo. Lahirlah kemudian rocksteady. Salah seorang musisi yang memainkan rocksteady adalah Bob Marley.

Pada tahun 1963, produser Jamaika, Coxsone Dodd, meminta pianis Jackie Mitto untuk membuat komposisi yang lebih lamban, tapi tetap bisa merangsang naluri goyang. Dibantu drumer Lloyd Knibbs, Mitto melambankan tempo rocksteady. Dalam perkembangan selanjutnya, proses pelambanan tempo itu melahirkan reggae. Musik ini dicirikan oleh peran drum dan bas sebagai pengatur tempo. Juga bunyi gitar rhythm sebagai pemberi ketukan reguler yang perkusif.

Rasta
Kelahiran reggae tak lepas dari konteks sejarah sosial dan kultural Jamaika sebelum merdeka dari Inggris pada 6 Agustus 1962. Kondisi psikososial dan kultural Jamaika prakemerdekaan memunculkan pandangan ideal tentang kondisi negeri damai dan merdeka.

Masyarakat akar rumput Jamaika yang didominasi oleh keturunan Afrika mengidolakan segala sesuatu yang berbau kultur Afrika. Mereka mengimpikan Afrika sebagai negeri pengharapan. Mereka mengidolakan tokoh seperti Kaisar Etiopia Haile Selassie I. Lahirlah kemudian apa yang disebut sebagai gerakan Rastafari atau Rasta.

Istilah Rastafari berasal dari Ras dan Tafari. Ras merujuk pada pengertian gelar kebangsawanan. Tafari diambil dari Tafari Makonen yang merupakan nama Haile Selassie sebelum dinobatkan sebagai Kaisar Etiopia. Rastafari merupakan semacam respons dari pandangan yang mengecilkan kaum kulit hitam Jamaika.

Identifikasi Afrosentris itu juga jatuh pada pilihan warna hijau, kuning, dan merah. Kombinasi tiga warna tersebut diambil dari warna bendera Etiopia, merah, kuning, hijau. Merah melambangkan darah para martir, hijau adalah kesuburan Afrika, sedangkan kuning merupakan lambang kekayaan dan kemakmuran Afrika.
Warna ini kemudian menjadi simbol gerakan Rastafari. Pun menjadi warna “wajib” dalam komunitas reggae di mana pun, termasuk di Indonesia. Sekadar contoh, tiga warna itu menjadi warna dasar album Indonesian Reggae Revolution. Warna dinding Kafe BB’s juga didominasi warna merah, kuning, hijau.

Rambut Gimbal
Rastafari berusaha hidup dekat dengan alam. Rambut gimbal (dreadlocks) dilihat sebagai bagian dari kenaturalan. Dalam kultur rasta, rambut gimbal mengandung filosofi. Dalam proses menjalin rambut hingga menjadi gimbal itu terkandung semacam perjalanan jiwa, pikiran, dan spiritual. Proses menjalin rambut itu mengajarkan mereka untuk bersabar.

Rambut gimbal kemudian menjadi semacam “keharusan” bagi praktisi musik reggae. Katakanlah, ini seperti penyanyi country yang seakan harus bertopi koboi. Begitu pula pereggae Melayu seperti Tony Q, Masanis, Anak Agung Juni Antara juga berambut gimbal.

“Tapi, rambut gimbal ini hanya untuk image. Sekadar fashion reggae yang identik dengan rambut gimbal. Acuannya ya Bob Marley,” kata Tony Q tentang rambut gimbalnya.

Reggae Melayu
Reggae, seperti dikatakan etnomusikolog Jacob Edgar, merupakan jenis musik yang mudah beradaptasi dengan beragam lingkungan kultural.

“Orang bisa meramu getaran reggae dengan musik lokal untuk menciptakan sesuatu yang berasa reggae yang unik,” kata Edgar yang menjadi etnomusikolog tamu bagi perusahaan rekaman Putumayo.
Jangan heran jika di Indonesia berkembang reggae dari beragam unsur etnis. Tony memasukkan unsur laras pelog dalam lagu reggae Damai Surga. Ia juga menempelkan cita suara talempong, musik tradisional Minang, pada lagu Pesta Pantai. Selain itu, Tony juga menggunakan vokal gaya Batak.

“Saya mencoba memasukkan notasi lokal ke dalam lagu reggae, dan ternyata pas,” kata Tony.

Tony juga menulis lagu reggae dalam bahasa Jawa berjudul Witing Tresno Jalaran Saka Kulino—awal cinta karena terbiasa. Belakangan dalam album Salam Damai, ia menulis lagu dalam bahasa Sunda, Paris Van Java.

Seniman reggae Bali bahkan membuat album reggae berbahasa Bali. Legend Band, misalnya, pada tahun 2004 menelurkan reggae mebasa (berbahasa) Bali. Belakangan Joni Agung dengan Double T Band-nya membuat album reggae Bali Melalung yang laku 15.000 kopi.

“Orang tak peduli bahasa apa yang kami pakai. Buktinya, bule-bule yang mendengarkan lagu mebasa Bali yang kami mainkan tetap bergoyang asyik,” kata Sila Sayana, vokalis Legend Band.

Mungkin ada benarnya. Lagu Tony Q berjudul Pat Gulipat bahkan dimuat dalam album Reggae Playground terbitan “Putumayo World Music” yang diedarkan secara internasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar